Category Archives: Makanan

26 Persen dari 760 Jajanan Anak Yang Beredar Mengandung Zat Berbahaya

Sekitar 26 persen dari 760 sampel jajanan yang diambil di 150 tempat jajanan sekolah dasar oleh petugas Dinas Kesehatan Kabupaten Karawang, Jawa Barat, selama 2010 mengandung zat berbahaya.

“Jenis zat berbahaya yang ditemukan pada jajanan anak-anak di sekolah dasar ialah rhodamin B, siklamat, formalin, methanil yellow, dan boraks,” kata Kasi Pengawasan Makanan dan Obat Berbahaya Dinas Kesehatan Karawang, M Alwi, di Karawang, Selasa (21/12).

Dikatakannya, para petugas Dinas Kesehatan Karawang sudah mengambil 760 sampel jajanan yang diambil di 150 tempat jajanan di tempat-tempat jajanan sekitar sekolah dasar pada Juni dan November 2010.

Dari sampel yang diambil selama dua tahap pada 2010 tersebut, sekitar 26 persen atau 190 sampel jajanan anak diantaranya ditemukan mengandung zat berbahaya.

Jumlah jajanan anak yang mengandung zat berbahaya pada 2010, kata Alwi, menurun dibandingkan dengan pemeriksaan yang dilakukan pada tahun sebelumnya.

“Dari 198 sampel jajanan anak yang diambil selama 2009, sekitar 52,2 persen diantaranya mengandung zat berbahaya. Sedangkan pada 2010 ini, hanya 26 persen yang mengandung zat berbahaya, dari 760 sampel jajanan,” katanya.

Menurut dia, penggunaan zat-zat tertentu pada makanan atau jajanan anak itu sebenarnya diizinkan, tetapi harus sesuai dengan kadar kandungan zat yang sudah ditentukan.

“Jika penggunaan zat-zat tertentu dibiarkan pada makanan atau jajanan anak, maka itu berbahaya. Karena itu, ditentukan batas toleransi penggunaannya,” katanya

Setelah Indomie Kini Gula Merah dan Permen Indonesia Ditolak Taiwan Karena Mengandung Pengawet Berbahaya

Selain mi instant Indomie, gula merah dan permen asal Indonesia juga ditolak dan ikut kena razia di Taiwan. Kalau Indomie ditolak karena diduga mengandung E218 (Methyl P-Hydroxybenzoate) pangan pengawet dalam produk itu namun tidak demikian dengan gula merah dan permen asal Indonesia.

“Gula merah dan permen ikut dirazia karena temuan di sana katanya ada bahan pemutih dalam jumlah besar,” kata Kepala Bidang Perdagangan pada Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) Bambang Mulyatno kepada wartawan usai rapat kerja (Raker) dengan Komisi VI (Komisi Perdagangan) DPR RI di gedung DPR/MPR RI Jakarta, Senin (11/10/2010).

Ditanya nama produk gula merah dan permen asal Indonesia yang ditolak Taiwan itu, Bambang tidak bersedia menjelaskan. “Ah, janganlah,” kata dia.

Menurut Bambang ketiga produk itu yakni Indomie, permen, dan gula merah sudah beberapa bulan yang lalu dilaporkan oleh pihak Taiwan kepada Kantor Dagang Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taiwan.

“Ini kasusnya muncul dan tenggelam. Bisa juga kita berpikir mungkin situasional. Jadi, kalau bahan baku tidak ada, ya dipakai (produk itu),” kata Bambang.

Kendati demikian, masalah ini sudah ditanyakan dan dikonsultasikan ke KDEI. “Mereka (pihak Taiwan) sudah kirim pertanyaan ke kami dan sudah dijawab, sejauh ini baru sebatas tanya jawab. Dan kita ingin sampaikan ini harus tuntas,” kata Bambang.

Termasuk di antaranya, KDEI menanyakan ke otoritas berwenang di Taiwan siapa kira-kira pihak yang “bermain” dalam kasus ini karena ditengarai kasus ini tidak berdiri sendiri. “Kita konsultasikan siapa kira-kira pemainnya. Dan, mungkin mereka (otoritas Taiwan) tidak bersedia menjawab karena mereka melindungi importirnya,” papar dia.

Bambang mengaku bisa saja produk itu, terutama Indomie, mengandung bahan pengawet E218 (Methyl P-Hydroxybenzoate) karena tercemar dalam proses pendistribusian dan pengangkutan di kapal. “Bisa saja ya,” kata Bambang.

Sebelumnya, Sekjen Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Franky Sibarani mengatakan dalam proses pengirimannya diduga produk itu terkontaminasi dengan produk lain. “Lalu barang ini (Indomie yang terkontaminasi) masuk ke toko lalu dikonsumsi masyarakat,” kata Franky.

Menurut dia, dalam laporan yang diterima pihaknya sebelum Lebaran awal September 2010, disebutkan Taiwan sudah melansir soal temuan itu dan waktu dilakukan pengecekan waktu itu sejumlah fakta ditemukan. “Ternyata itu (Indomie berpengawet) masuk ke Taiwan tidak diekspor dari produsennya langsung,” kata Franky.

Hati Hati Usus Ayam Berformalin Beredar di Jakarta

LTF ditangkap polisi dari Polresto Jakarta Barat karena menjalankan usaha usus ayam berformalin. LTF bersama lima orang sengaja mencampur formalin dengan air lalu dituangkan ke usus ayam agar awet.

“Pelaku mengaku mencampur usus ayam dengan formalin yang dipasarkan di pasar Tambora Jakarta Barat,” kata Wakil Kepala Polisi Resort Metro Jakarta Barat AKBP Aan Suhanan kepada wartawan, Kamis (25/11).

Menurut Aan, pelaku LTF ini ditangkap di Jalan Duri Utara Raya, Tambora, Jakarta Barat pada pukul 03.00 WIB. “Dari situ dikembangkan sampai di rumah pelaku yang berada di Dusun Bambu Apus Rt 01 Rw 04 Pamulang,” jelas Aan.

“Polisi menyita 1 jeriken berisi 3 liter formalin, 200 kilogram usus ayam yang sudah diolah, 350 kilogram usus ayam yang sudah dikantongi, dan 100 kilogram usus ayam yang belum diolah. Disita pula satu mobil pick up Suzuki Futura sebagai mobil operasional,” jelas Aan.

Kepada polisi, LTF mengaku mendapatkan usus ayam dari rumah pemotongan ayam dengan harga Rp 3.000 per kilogram.

Untuk pembuatannya, LTF membersihkan usus, kemudian direbus, lalu dimasukkan ke dalam bak air yang sudah dicampur formalin.

Usus kemudian direndam sehari semalam, dibungkus kantong plastik, disimpan di lemari es, dan esoknya dijual. “Ia menjual Rp 7.500 per kilo nya,” terang Aan.

Dalam aksinya, LTF dibantu oleh Sanen dan Didik yang bertugas menyampur dan mengolah formalin, Sultan yang bertugas mengolah usus ayam, Topan dan Herman sebagai sopir dan kernet mobil. Namun, para pembantu LTF ini masih berstatus sebagai saksi.

LTF dijerat Pasal 55 Undang-undang Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara atau denda Rp 600 juta

Indomie Dilarang Beredar Di Taiwan Karena Mengandung Bahan Pengawet Untuk Kosmetik

Otoritas Pertanian, Makanan, dan Hewan Singapura (Agri Food and Veterinary Authority/AVA) tengah menyelidiki untuk memastikan produk Indomie di Singapura aman dikonsumsi.

Penelitian tersebut dilakukan menyusul laporan bahwa Taiwan telah melarang produk Indomie. Otoritas Taiwan mengatakan mereka menemukan kandungan bahan pengawet para hydroxy benzoic acid di mi produk Indomie. Bahan pengawet tersebut, menurut Taiwan, biasa dipakai untuk kosmetik.

Setelah pengumuman penarikan dirilis pada Jumat pekan lalu, dua supermarket terbesar di Taiwan, ParknShop and Wellcome, menarik produk Indomie dari rak toko mereka.

AVA mengatakan para hydroxy benzoic acid tidak boleh dipakai di mi instan yang ada di Singapura. AVA sudah menguji produk Indomie. Namun, hasilnya belum diketahui. Mereka pun belum menarik produk Indomie saat ini.

PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk sebagai produsen Indomie menyatakan produk-produk miliknya telah sepenuhnya memenuhi panduan dan peraturan yang berlaku secara global, yang sudah ditetapkan Codex Alimentarius Comission, sebuah badan internasional yang mengatur standar makanan.

Sebanyak 168 negara, termasuk Indonesia, Amerika, Cina, Jepang, Jerman, dan Inggris, sepakat untuk mengikuti standar makanan yang ditetapkan Codex Alimentarius Commission.

Menurut Direktur PT Indofood CBP Sukses Makmur, Taufik Wiraatmadja, selalu memenuhi peraturan dan ketentuan keselamatan makanan yang berlaku di berbagai negara, tempat produk mi instan Indomie dipasarkan. “Kami sudah mengekspor mi instan ke berbagai negara di seluruh dunia selama 20 tahun lebih,” katanya.

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan, Kustantinah, juga sependapat dengan Taufik. Dia mengatakan produk mi instan yang telah terdaftar di Indonesia, termasuk Indomie, aman dikonsumsi. Batas maksimum penggunaan methyl p-hydroxybenzoate dan benzoic acid sebagai tambahan pangan diatur dalam peraturan menteri tahun 1998.

Insiden penarikan mi Indonesia di Taiwan ini kemarin sempat membuat Kementerian Perdagangan Indonesia sedikit waswas. Mereka berencana pergi ke Taiwan untuk memastikan apakah produk itu dihasilkan pabrik di Indonesia. “Bisa saja merek ditempel di produk berbeda,” kata Deddy Saleh, pelaksana tugas Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan. Pihaknya juga akan meminta konfirmasi dari otoritas Taiwan.
Bantahan Dari Indofood

PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) berkeyakinan bahwa pemberitaan mengenai mi instan yang muncul di media massa Taiwan, bukanlah merupakan produk mi instan produksi ICBP yang ditujukan untuk pasar di negara itu.

Terkait pemberitaan di media massa Taiwan akhir pekan lalu bahwa produk mi instan Indomie mengandung bahan pengawet E218 (Methyl P-Hydroxybenzoate), Direktur ICBP Taufik Wiraatmadja menegaskan, produk mi instan yang diekspor oleh perseroan ke negara itu telah sepenuhnya memenuhi peraturan Departemen Kesehatan Biro Keamanan Makanan Taiwan.

“Perseroan telah sepenuhnya memenuhi panduan dan peraturan yang berlaku secara global, yang sudah ditetapkan Codex Alimentarius Comission, sebuah badan internasional yang mengatur standar makanan,” kata Taufik dalam siaran persnya hari ini.

Taufik menambahkan, perseroan tengah meninjau situasi di Taiwan dan akan segera mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk melindungi kepentingan konsumen. “Di Taiwan maupun di beberapa negara lainnya,” ujarnya.

Importir Indomie di Taiwan, Fok Hing (HK) Trading, juga mengatakan mi instan Indomie produksi Indofood sudah memenuhi standar keamanan makanan di Hong Kong maupun Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Fok Hing Trading mengutip penilaian kualitas Indomie pada Juni lalu yang menyatakan tidak menemukan kandungan pengawet terlarang di Indomie.

“Mi Indomie aman dimakan dan mereka masuk ke Hong Kong melalui saluran impor resmi,” tulis Fok Hing (HK) Trading. “Produk yang mengandung racun dan ditemukan di Taiwan diduga diimpor secara ilegal.”

Sebuah supermarket Indonesia di Taiwan, East-Southern Cuisine Express, di Causeway Bay pun mengatakan hal yang sama. Menurut supermarket ini, produk Indomie mereka bukan barang selundupan dan aman dimakan.

Beras Merek Flying Man Yang Diduga Illegal dan Berbahaya Ditarik Dari Pasaran

Beras impor diduga ilegal merek “Flying Man” yang ditemukan di salah satu mini market di Kabupaten Bungo oleh tim Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan saat inspeksi mendadak beberapa waktu lalu, akhirnya ditarik dari pasaran.

Kepala Dinas Koperasi, UKM dan Perindang Kabupaten Bungo Amirudin Hanafie saat ditemui, Selasa, mengatakan, dari hasil koordinasi dengan Disperindag Provinsi Jambi beras temuan sidak tersebut dinyatakan ilegal dan diminta untuk ditarik dari peredaran.

“Kita telah melakukan pengecekan di minimarket `L`, saat ini beras tersebut sudah tidak dijual lagi. Kita juga sudah ingatkan penjual untuk tidak coba-coba lagi menjual beras impor ilegal tersebut,” jelas mantan Kabag Perekonomian Setda Bungo ini.

Selain itu, kebijakan ini juga menjadi peringatan bagi swalayan atau minimarket lainnya untuk tidak coba-coba menjual barang tanpa ada legalitas yang jelas.

“Jika nanti kami kembali menemukan barang impor atau lokal tanpa ada legalitas maka akan langsung kita berikan tindakan tegas,” katanya.

Pihaknya akan terus melakukan pemantauan terhadap semua barang yang beredar di Kabupaten Bungo, baik berupa produk makanan ataupun produk barang lainnya.

Pengecekan produk makanan dan barang ini rutin dilakukan, sehingga keluar masuknya barang akan diketahui, sehingga tidak ada lagi barang impor ilegal yang masuk ke Bungo.

Sebelumnya, Dinas Koperasi, UKM dan Perindag bersama Dinas Kesehatan pada Rabu (25/8) melakukan sidak ke sejumlah minimarket dan swalayan di Kota Muarabungo, ibukota Kabupaten Bungo.

Dalam sidak itu tim menemukan adanya penjualan beras impor dari Thailand bermerek “Flying Man”. Beras ini tidak memiliki label ML (makanan luar) dan label Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM). Beras tersebut dijual bebas di minimarket “L” di kawasan Jalan Lintas Sumatera.

Belum diketahui pasti, apakah beras tersebut masuk ke Indonesia secara ilegal atau resmi. Tim sidak sudah mengambil sample beras tersebut dan akan dikonsultasikan ke BPOM Provinsi Jambi dan instansi terkait.

Saat sidak pemilik minimarket “L” Tameng mengatakan, pihaknya telah menjual produk beras impor dari Thailand ini sejak tiga bulan lalu dan mengambil beras impor ini dari distributor Pulau Emas Jambi.

“Saya tidak tahu kalau ini produk beras impor ilegal. Kita sudah menjual puluhan karung dan sampai saat ini belum ada yang komplain,” ujarnya.

Daftar Terkini Obat Tradisional Dan Obat Kuat Yang Mengandung Bahan Kimia Berbahaya Dosis Tinggi

Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) menemukan sebanyak 46 produk obat tradisional berbahaya karena mengandung bahan kimia obat.

“Berdasarkan analisis risiko temuan pengawasan obat tradisional pada semester pertama 2010 masih ditemukan mengandung bahan kimia obat yang dilarang dicampurkan ke dalam obat tradisional,” papar Kepala Badan POM Kustantinah, di Jakarta, Jumat (13/8/2010).

Produk obat tradisional yang disita Badan POM itu terdiri atas produk jamu, kapsul, tablet, dan lain-lain.

Sebanyak delapan produk nomor registrasinya dibatalkan, yakni:

1. Wei Yi Xin Kapsul, 2. Gemuk Segar Eka Jaya No 1 serbuk, 3. Keteling Jiaonang, 4. Pegal Linu Eka Jaya No 2 serbuk, 5. Pegal Linu Sari Widoro COD, 6. Yin Chiao tablet, 7. Gemuk Sehat Pusaka Raga Serbuk, dan 8.Tenaga Sehat Pegal Linu serbuk.

Sedangkan produk yang tidak terdaftar dan mencantumkan nomor izin palsu adalah

1. Asam Urat Flu Tulang Super kapsul, 2. Asam Urat Flu Tulang Super tablet, 3. Buah Delima Darah Tinggi kapsul, 4. Buah Delima kapsul, 5. Gajah Kuat tablet, 6. Gemuk Sehat untuk Pria, 7. Wanita Jati Sehat, 8. Obat Gatal-Gatal (Eksim) Brantas kapsul, 9.Obat Kuat Tongkat Mesir serbuk, 10. Pakar Jaya Asam Urat si Tangkur Serbuk, 11. Power Sex kapsul, 12. Serbuk Brastomolo, 13. Top Jaya Sakti kapsul, 14. Torpedo serbuk, 15. Walet Mas serbuk, 16. Yunang kapsul, 17. Chang San serbuk, 18. Flu Tulang serbuk, 19. Puji Sehat Gemuk Sehat serbuk, 20. Sukma Perkasa Asam Urat serbuk, 21. Asam Urat + Flu Tulang Ramuan Mahkota Dewa kapsul, 22. Kammasutera serbuk, 23. Pegal Linu dan Asam Urat Montalin kapsul, 24. Godong Ijo kapsul, 25. Buah Merah Khusus Pria dan Wanita kapsul, 26. Pa’e Obat Kuat dan Tahan Lama kapsul, 27. Kuat Jantan Obat Kuat dan Tahan Lama kapsul, 28. Akar Jawa China kapsul, 29. Pegal Linu Rheumatik Asam Urat untuk Pria dan Wanita Kuat Sentosa serbuk, 30. Multi Guna Kaler untuk Pria dan Wanita serbuk, 31. Asam Urat Kaler untuk Pria dan Wanita serbuk, 32. Samurat Extra untuk Pria dan Wanita serbuk, dan 33. Asam Urat Nyeri Tulang Pengapuran kapsul.

Selain itu, ada lima produk obat tradisional yang beredar namun tidak terdaftar, yakni:

1. 5X Lebih Dahsyat Obat Kuat dan Tahan Lama tablet, 2. On-Top kapsul, 3. Linzhe Ba Zi Hu Zin Lin tablet, 4. New Happy Strong kapsul, serta 5. Morinda Extra Ginseng kapsul.

“Badan POM mengimbau masyarakat untuk bisa melindungi diri sendiri dengan tidak membeli produk tersebut,” ujar Kustantinah. Masyarakat yang menemukan produk yang dilarang beredar atau produk pangan rusak lainnya agar melaporkan ke Badan POM atau Balai POM diseluruh Indonesia.

Badan POM juga menyediakan Unit Layanan Pengaduan Konsumen Badan POM yang dapat dihubungi di nomor telepone021-4263333 dan 021-32199000 atau surat elektronik di ulpk@pom.go.id atau laman internet di http://www.pom.go.id.

Pemerintah menyita 46 merek obat tradisional. Penyitaan tersebut dilakukan karena barang-barang itu mengandung bahan kimia obat (BKO) dengan dosis sangat tinggi.

Ke-46 merek obat tradisional tersebut kebanyakan merupakan obat penambah stamina pria atau obat kuat. Produsen obat pun berasal dari beberapa daerah. Ada yang dari daerah Jabodetabek, Cilacap, Surabaya, Makassar, dan Magelang. Bahkan terdapat dua merek obat tradisional yang diimpor dari Malaysia.

Jenis BKO yang ditambahkan dalam obat tradisional pun beragam. Dari paracetamol, metampiron, CTM, tadalafil, dan lain-lain. “BKO yang berlebihan sangat berbahaya bagi tubuh,” kata Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Kustantinah, di Jakarta, Jumat (13/8).

BKO tersebut biasanya terkandung dalam obat keras. Untuk pemakaiannya pun membutuhkan resep dokter. “Kebanyakan kandungan BKO dalam obat tradisional yang kita sita sangat tinggi,” jelasnya.

Dalam peredarannya, urainya, obat-obat tersebut kerap mencantumkan izin edar palsu. Dari ke-46 merek itu, 33 di antaranya izin edarnya palsu. Lima merek tak terdaftar dan delapan lainnya dibatalkan nomor registrasinya.

Kustantinah menambahkan, pengawasan terhadap obat-obatan dilakukan secara kontinyu. Pada kurun 2001-2007, penggunaan BKO pada obat tradisional kebanyakan untuk obat rematik dan penghilang rasa sakit. Namun sejak 2007, tren tersebut beralih ke obat pelangsing dan penambah stamina.

Untuk mengantisipasi penyebaran obat-obat itu, BPOM telah menginstruksikan kepada jajarannya untuk menarik dan memusnahkannya. Selain itu, dia juga berharap agar masyarakat dapat melindungi dirinya masing-masing. Caranya dengan melihat komposisi obat dan makanan, atau melihat kode registrasi yang tercantum dalam kemasan. Kustantinah juga mengimbau agar masyarakat melaporkan kepada BPOM jika menemukan obat atau makanan ilegal.

Sementara itu, Ketua Gabungan Pengusaha Jamu Indonesia, Charles Saerang, menegaskan tidak ada anggotanya yang tak memiliki izin edar. Anggota GP Jamu yang saat berjumlah 1.300 perusahaan, semuanya terdaftar di BPOM. “Mereka bukan anggota kami,” kata Saerang.

Dia menyambut baik usaha pemerintah dalam mengawasi peredaran obat-obat tradisional di Indonesia. “Sebaiknya jangan hanya dilakukan secara musiman saja,” tuturnya. Selain itu dia berharap dapat dilibatkan dalam proses pengawasan itu.

Hati Hati … 5 Merek Dendeng Sapi Mengandung Babi

Terbukti mengandung babi, lima merek dendeng dan abon sapi ditarik dari peredaran oleh pemerintah daerah.

Menurut Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Husniah Rubiana Thamrin Akib, dari 35 sampel yang terdiri 15 merek dendeng sapi dan 20 merek abon sapi, lima di antaranya terbukti mengandung DNA babi.

Kelima merek tersebut termasuk pangan olahan industri rumah tangga (PIRT) yang izin edarnya dikeluarkan pemerintah daerah, kata Rubiana, Kamis (16/4).

Adapun kelima merek tersebut adalah

  1. dendeng/abon sapi gurih cap Kepala Sapi (SP 0094/13.06.92),
  2. abon/dendeng sapi Cap Limas 100 gram (SP 030/11.30/94) produsen Langgeng Salatiga,
  3. abon/dendeng sapi asli cap ACC (SP 030/11.30/94),
  4. dendeng sapi istimewa Beef Jerky Lezaaat 100 gram (PIRT 201357812877)- Surabaya dan
  5. dendeng sading sapi Istimewa No 1 cap 999 berat 250 gram (PIRT 201357301367)- Malang.

OBAT BATUK
Selain menarik peredaran dendeng yang mengandung babi, BPOM juga mengumumkan bahwa produk obat batuk dan flu mengandung Phenylpropanolamine (PPA) yang beredar di pasaran dalam negeri aman dikonsumsi asal sesuai aturan pakai.

November tahun 2000, lanjut Husniah,Amerika menarik obat yang mengandung PPA karena diduga ada hubungan antara penggunaan PPA dosis tinggi pada obat pelangsing dengan perdarahan otak. “Tapi tidak benar ada pengumuman tentang penarikan obat flu dan batuk ber-PPA pada 1 Maret 2009,” jelasnya.

30 Persen Produk Makanan Di Indonesia Termasuk Kategori Berbahaya

Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Pusat, Indah Sukmaningsih menyatakan, sekitar 30 prosen (sepertiga) makanan kemasan yang dipasarkan bebas di Indonesia, diindikasikan mengandung zat berbahaya.

Bahkan dari 28 jenis produk makanan yang diteliti lembaganya bersama para akhli dari Universitas Indonesia (UI), ternyata terdapat 10 jenis produk diantaranya terbukti mengandung zat berbahaya seperti melamin dan zat berbahaya lainnya, ungkap Sukmaningsih di Cipanas Garut, Jabar, Jumat.

Ditemui seusai kegiatan sosialisasi tentang “jangan melahirkan di rumah”, ia juga mengemukakan angka tersebut jika dikonversikan terhadap jumlah produk makanan kemasan yang beredar di Indonesia, nyaris bisa mencapai 30 prosen mengandung zat berbahaya.

Kondisi yang memprihatinkan itu belum termasuk dengan peredaran produk makanan kadaluarsa, yang luput dari kegiatatan pengawasan pemerintah, padahal beragam jenis makanan kadaluarsa mayoritas mengandung bakteri “anaerob”, yang bisa mengakibatkan kematian, katanya.

Terkait hingga kini masih banyaknya beragam produk makanan berbahaya termasuk kadaluarsa yang masih banyak beredar ditengah masyarakat, menurutnya terjadi akibat kelalaian pemerintah dalam mengawasi peredaran barang-barang tersebut.

Malahan lembaga pengawasan milik pemerintah yakni BPOM, selama ini dinilai tidak bekerja secara maksimal, melainkan hanya melakukan pemeriksaan produk makanan yang dibersihkan , sehingga pada hasil pemeriksaan yang dilakukan tidak diketemukan bukti produk tersebut mengandung zat berbahaya.

Diperparah Departemen/ Dinas Perdagangan, yang semestinya dapat menjadi filter dari masuknya produk makanan berbahaya ini, selama ini hanya memerankan diri sebagai pembuat regulasi atau tanpa melakukan aksi yang maksimal untuk menyelamatkan konsumen dari ancaman makanan berbahaya, katanya.

Adanya ketidak sungguhan pemerintah menangani masalah ini, maka diharapkan masyarakat mulai mengerti atau memahami tentang segala produk makanan yang tersedia, agar mereka tidak terjebak dan tergiur untuk mengkonsumsinya.

Namun, Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Pusat, Indah Sukmaningsih pada kesempatan tersebut tidak menyebutkan secara detail tentang beragam jenis produk makanan yang dinilai dan dituduhkannya mengandung zat berbahaya

Carrefour Menjual Makanan Kadaluwarsa

Carrefour Menjual Makanan Kadaluwarsa

Sejumlah makanan dan minuman kadaluarsa dan tidak berlebel ditemukan terpajang di rak-rak Carrefour Ciledug sehingga mendapat teguran keras dari Pemkot Tangerang.

Teguran keras disampaikan Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Pariwisara H. Dafyar Eliadi kepada manajemen swalayan itu saat melakukan Sidak ke swalayan itu dan pasar.

Makanan berbahaya itu di antaranya susu, bakso, dan kemasan ikan dari China dan industri rumahtangga.

“Kita akan memanggil manajemen Carrefour serta industri yang mengeluarkan makanan tanpa label agar segera mengurus perizinan,” kata Dafyar. Pemanggilan ini sebagai upaya agar kasus serupa tidak terulang lagi.

Kepala Seksi Pengawasan Makanan dan Minuman Dinas Kesehatan Tangerang, Heri Iskandar menuturkan, makanan dan minuman kadaluarsa dan tak berlebel yang telah diambil sampelnya itu akan diuji laboratorium untuk mengetahui tingkat kesehatannya.

“Apakah masih layak dikonsumsi atau tidak,” jelas Heri. Bila dilihat dari kemasan, tentunya belum bisa dipastikan kadar kesehatannya, terutama yang berasal dari China. Cara efektifnya, ya melalui tes laboratorium.

Sumber Berita Pos Kota: Carrefour Jual Makanan Kadaluarsa

Manipulasi label kadaluwarsa makanan dan minuman marak dilakukan

Praktik manipulasi label kadaluwarsa makanan dan minuman marak dilakukan para pedagang di Kota Kediri, Jawa Timur.

Praktik itu berhasil dibongkar petugas gabungan dari Dinas Kes, Dinas Perindustrian dan Perdagagangan, Dinas Pertanian, dan Satpol Pamong Praja Kota Kediri yang menggelar razia di sejumlah tempat, Selasa.

Petugas menemukan beberapa makanan dan minuman kemasan yang label kedaluwarsanya diganti dengan tulisan tangan. “Ini kami temukan di beberapa gudang milik para pedagang,” kata Kasi Peternakan Dinas Pertanian Kota Kediri, Subekti.

Pihaknya sudah mendata beberapa toko dan agen makanan dan minuman dalam kemasan di Jalan Pattimura, Kediri, yang dianggap melakukan praktik manipulasi itu.

Sayangnya, petugas tidak menyita beberapa makanan dan minuman dengan label palsu itu di toko Jalan Patimura, kecuali hanya mengambil beberapa sampel.

Sementara itu, razia makanan dan minuman yang digelar petugas gabungan dari Pemkot Kediri itu diwarnai dengan insiden pengusiran sejumlah wartawan.

Beberapa wartawan yang mencoba mengambil gambar pemeriksaan makanan dan minuman itu didorong dan dipaksa meninggalkan toko oleh pemiliknya.

Insiden ini memancing kecurigaan petugas, sehingga terbongkarlah praktik manipulasi label kedaluwarsa

SUMBER BERITA ANTARA: Praktik manipulasi label kadaluarsa marak dilakukan